Home Top Ad

Siap membantu para takmir

Sejarah Lembaga dakwah fiad kota Surabaya

Share:
Ustadz H Imam Ghozali hadiri pengukuhan PCM dan PCA se kota Surabaya 

SEKILAS TENTANG
FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM DAN DAKWAH ( FIAD )
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
لَمْحَةٌ سَرِيْعَةٌ عَنْ كُلِّيَّةِ الْعُلُوْمِ الْإسْلَامِيَّةِ وَ الدَّعْوَةِ
جَامِعَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ سُوْرَابَايَا

FIAD Universitas Mhammadiyah Surabaya berdiri pada 12 September 1964, bertempat di Masjid Dakwah Embong Malang Surabaya.
Masjid Dakwah adalah wakaf dari hartawan Surabaya yang mempunyai usaha bengkel mobil yang ada di Jln Embong Malang tersebut.
FIAD Univ Muh Surabaya berdiri sebagai realosasi dari hasil Konggres Nasional Muhammadiyah Majlis Tabligh bahwa untuk menghadapi faham komunis yang sudah meraja lela saat itu harus didirikan beberapa FIAD untuk menghadapi mereka.
Dekan Pertama sekaligus sebagai pendiri adalah Bapak H.AM Nursalim,M.A, akademoso lulusan luar negeri Fakultas Darul Ulum Universitas Cairo Mesir dengan disertasi : 
تَجْدِيْدُ الْفِكْرِ الْإسْلاَمِى بِإنْدُوْنِيْسِياَ وَ أَحْمَدْ دَاحْلَانْ بَطَلُهُ
Beliau dosen IAIN Surabaya yang gelar kesarjanaannya paling tinggi alumni luar negeri, tetapi karena pahamnya berbeda dengan Menteri Agama saat itu, maka beliau tidak diberi jabatan apa-apa di kampus tersebut.

Srbagai dekan FIAD beliau sangat menekuni tugasnya. Mahasiswa/wi beliau gembleng sendiri untuk pandai dan terampil berpidato, khutbah dan debat. Kegiatan tersebut di masjid Dakwah tingkat bawah sehabis solat magrib.
Pada thn 1965 itu saya lulus dari Pendidikan Hakim Islam Negeri ( PHIN ) Yogyakarta. Saya tidak berdinas sebagai pegawai negeri, tetapi justru saya langsung melanjutkan di perguruan tinggi, yaitu di FIAD Univ Muhammadiyah Surabaya yang baru dibuka, dengan harapan  semoga di usia muda, saya sudah dapat meraih gelar sarjana.
Waktu masuk FIAD Univ Muh Surabaya itu saya terlambat 3 ( tiga ) bulan.Saya baru masuk pada Desember 1964.
Oleh bapak Dekan H AM Nursalim,M.A,, saya diperbolehkan untuk  mengikuti perkulihan , tetapi saya tidak boleh naik ke tingkat II.Tahun depannya harus kembali ke tingkat I dan ikut Perpeloncoan sebagai syarat menjadi mahasiswa di  perguruan tinggi saat itu.
Saya lalu mengikuti kuliah, lalu pada akhir tahun Wkl Dekan bagian Keuangan dan Ketua Senat Mahasiswa mendorong saya untuk membayar uang ujian kenaikan tingkat dan ikut ujian. Saya lalu  ikut ujian dan lulus dengan  nilai terbaik.
Begitu Bpk dekan H.AM Nursalim,M.A. mendengar saya lulus kenaikan tingkat, saya dipanggil.
Beliau lalu mengultimatum saya :
Sdr.Sun’an ini ujian mentalmu. Kamu sekarang hanya ada 2 ( dua ) pilihan :
 1. Kembali ke tingkat I dan ikut perpeloncoan sebagaimana kamu sepakati dahulu atau 
2. Kalau kamu tidak mau, kamu harus keluar dari FIAD sekarang juga karena kamu menyalahi janji dan kamu kelihatannya hanya ingin mengejar gelar sarjana saja di FIAD ini.

Alhamdulillah berkat Taufiq dan Hidayah Allah SWT saya menjatuhkan pada pilihan nomer 1.Yaitu saya kembali ke tingkat1 dan ikut perpeloncoan.
Saya sangat hormat dan respek atas kepemimpinan beliau. Beliau pemimpin yang tegas dan prospektif.
Saya lalu mengikuti acara perpeloncoan yang dipusatkan di Universitas Erlangga Surabaya. Panitia perpeloncoan itu dikuasai oleh tokoh tokoh mahasiswa komunis.Kita digiring untuk membenarkan paham mereka tentang NASAKOM. Mereka meneriakkan yel-yel “ Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu. “
Kepala batu yang dimaksud disini yaitu Masyumi yang ormas pendiri dan pendukungnya adalah Muhammadiyah.
Kami mahasiswa Islam lalu marah dan malam perpeloncoan itu lampu listrik  di panggung penataran  kami lempar dengan batu. Lampu pecah dan keadaan jadi gelap. Mereka marah dan kami saling kejar mengejar untuk saling menghancurkan.
Saat itu tepat tanggal 17 Agustus 1965, kalangan Gerwani ( wanitanya PKI ) sudah menduduki rumah dinas  kediaman Gubernur Jawa Timur di Jln. Pemuda. Gubernur mereka ludahi dan mereka usir.
Suasanapun makin mencekam dan terus mencekam.
Tiba-tiba tgl 30 September 1965 malam, kota Surabaya di penuhi panser dan tentara ada di mana-mana khusunya RPKAD. Saya lalu bersembunyi ke Masjid Dakwah Embong Malang Surabaya.
Paginya RRI Jakarta mengumumkan bahwa telah terjadi pemberontakan PKI di Jakarta, tetapi dapat digagalkan. Pemimpin Besar PKI, D.N.Aidit dan konco-konconya sedang diburu RPKAD.
Saya kemudian ditemui Bapak H,Isngadi,B.A. dosen FIAD Univ Muh Surabaya bidang  retorika, massa psyikhologi agar saya merebut RRI Surabaya dari LEKRA PKI dan mengisi dengan Kesenian berisi Dakwah Islamiayah.
Saya lalu menyiapkan teks Langen Suara dan saya ajak Sdri Salmah Ba Halwan mahasiswi FIAD ke studio RRI Surabaya dan berdua membacakan langen suara keagamaan tersebut dengan iringan musik RRI Surabaya.
Dengan kita ambil alih RRI Surabaya, maka masyarakat Surabaya khusunya dan Jawa Timur umumnya menyadari bahwa suasana sudah berubah.
Lekra PKI sudah tidak berkuasa di RRI Surabaya dan seluruh elemen PKI harus disirnakan dimana saja  dan dihabisi orangnya, sebagai balasan dari beberapa Jendral mereka culik, mereka siksa, mereka bunuh  dan mereka  masukkan di sumur Lubang Buaya Jakarta.Sebagaimana juga mereka lakukan setiap kali memberontak baik sebelum atau sesudah merdeka.
Elemen-elemen ummat Islam lalu mengadakan demo besar-besaran, dipusatkan di Tugu Makam Pahlawan Surabaya di depan Kantor Gubernuran.
Massa lalu bergerak keseluruh kota Surabaya merampas hak milik PKI.
Diantaranya, Muhammadiayah mengambil alih sekolah mewah milik Cina PKI di Jln Kapasan 73-75 Surabaya.
Agar gedung sekolah yang begitu besar tidak di rebut tentara dan ormas NU, maka kegiatan  perkulihan FIAD di Embong Malang di pindah ke situ.
Ketua PCM Simokerto dan Pengurus Mapendap ( Majlis Pendidikan ) Kodya Surabaya ada Bpk.Suptiyadi, Bpk Isra Kusnoto, Bapak Sunaryo mendirikan SDM, SMPM,SMAM dan SMEAM di perguruan Muhammadiyah Kapasan dan saya ditugaskan untuk mengajar di situ.
Maka amanlah Perguruan Kapasan dari incaran kalangan non Muhammadiyah.
Di tengah suasana yang mencekam dan kami kesana kemari membawa golok yang disembunyikan di kain baju longgar, tiba-tiba ada berita duka bahwa Bapak H.AM Nursalim meninggal dunia di Kalimantan saat menjalankan tugas sebagai imam tentara dan membersihkan unsur-unsur PKI di kalangan tentara.
Maka Dekan FIAD Univ. Muh Surabaya di jabat oleh  Bapak Drs, Mas’ud Admodiwiryo.
Badan Pengurus Harian ( BPH ) nya dijabat oleh Bapak Let.Jendral Sudirman ayah Bpk Basofi Sudirman dan sekretarisnya ialah Bpk Let.Kol Sukarsono.
Diperkuat juga oleh Ketua PWM JAWA Timur  Bpk K.H.M.Anwar Zein yang saat itu juga sedang menjabat Ketua PDM Surabaya. Beliau juga sempat berkantor di Jln. Kapasan 73-75 Surabaya. Sebelum Ketua PDM Surabaya dijabat olrh Bpk Wisatmo.
Untuk mengembangkan dan memajukan FIAD Univ.Muh. Surabaya dibutuhkan dana yang besar. Maka Bapak Let.Jendral Sudirman,sebagai Ketua BPH berinisiatip mengundang hartawan Surabaya.
Agar mereka mau berkumpul, maka diadakanlah pementasan drama di Aula Perguruan Muhammadiyah Jln.kapasan 73-75 Surabya.
Saya ditugaskan sebagai penulis cerita, sebagai juru sekenario, juga saya harus jadi pemain inti. Maka saya lalu minta bantu dramawan dramawan Surabaya untuk membantu pementasan tersebut. Ada Sdr. A.R.Sagran dari Al Irsyad Surabaya, ada sdr Lutfi Perkumpulan Drama Surabaya dan ada sesepuh Muhammadiyah yang tinggal di Boto Putih Nyamplungan Surabaya.
Al Hamdulillah penetasan itu berhasil dan dengan piawainya Bapak Let Jendral Sudirman menghimbau kepada hadirin bahwa FIAD dengan team dramanya yang potensial ini butuh didukung dana supaya lekas maju.
Beliau Syekh / Umar Hubeisy, dosen FIAD yang hartawan Surabaya yang tinggal di Jln KM Mansur menyisihkan sumbangangannya diikuti oleh yang lain, maka terkumpullah subangan sebanyak 1 ( satu ) kg emas.
Selanjutnya Bpk Drs. Rahmat Jatnika menggantikan bpk Drs.H.Masud Atmodiwiryo sebagai Dekan. Kepala tata usaha dan wakilnya Bpk Isra Kusnoto dan Bpk Sunaryo.
Saya ditunjuk sebagai Ketua senat mahasiswa dan sebagai Asisten Dosen untuk menghidupkan perkulihan kalau ada dosen yang tidak hadir. Saya juga memberi pelajaran tambahan yaitu bahasa Arab dengan methode yang segampang mungkin.
Alhamdulillah mahasiswa/wi dari latar belakang sekolah umum yang awam Bhs Arab seperti sdr Hamzah Tualeka, Sdr. Said Yasna, Sdri Masnah Ali  dan lain-lainnya melek Bahasa Arab.
Yang sudah bisa bahasa Arab kitan saya ajak ke kediaman Ustadz Umar Hubaisy, ke kediaman dosen Bahasa Arab lainnya untuk belajar membaca Kitab Gundul.
Kegiatan ini sebagai bekal saya juga agar saya lulus di Depag RI dalam bahasa Arab sebagai syarat   melanjutkan belajar ke Mesir.
Begitu sibuknya saya ikut menjalankan roda FIAD,memajukan Perguruan Muhammadiayah Kapasan, Wakil Ketua DPD IMM Jatim, Wakil Sekretaris PDM Surabaya periode Bpk.KH Aunurrafiq Mansuyur. Saat itu pengurus Muhammadiayah yang pegawai negeri  pada tiarap tidak berani menampakkan diri, takut dianggap tidak taat pada  azas tunggal oleh penguasa Jakarta. Sayalah pengurus Muhammadiyah yang orang swasta  bebas bekiprah dalam  kepemimpinan, managerial sampai teknikel skill mengantar surat undangan rapat. Saya kena penyakit lupa karena kurang tidur. Begitu meletakkan kunci, terus lupa di mana kunci itu saya letakkan.
Sembuhnya setelah menikah dan berkeluarga karena harus tidur malam bersama anak istri.
Thn 1968 FIAD Univ Muh Surabaya meluluskan Bachelor of Art ( BA ) swasta angkatan ke I diantaranya ada Bpk. Kun Tholabi, Bpk Suwardi, Bapak Isra Kusnoto, Bapk Sunaryo, saya sendiri Sdr.M.Sun’an Miskan dll 
Saya sebagai karyawan FIAD yang orang swasta tak terkat dengan azas tunggal kemudian ditugaskan untuk wora-wiri ke Jakartake PP Muh Mapendappu dan Ke Depag RI bagian persamaan ijazah swasta debgan ijazah negeri 
Tugas ini bertentangan dengan gagasan pendiri dan dekan ke I FIAD  bpk H AM Nursalim,M.A.Beliau  melarang ijazah FIAD disamakan dengan negeri. Kalau sudah disamakan maka yang masuk ke FIAD nanti adalah pegawai pegawai negeri yang berijazah SMA dan Aliyah untuk ambil gelar BA untuk kenaikan gajinya. Pada hal sejatinya FIAD itu adalah sekolah kadernya Muhammadiyah jatim. PDM –PDM seharusnya kirim kadernya dengan beasiswa penuh kuliah di FIAD. Tetapi PDM PDM di jatim tidak ada yang mampu mengemban tugas itu.
Pihak Depag RI lalu mengutus Bpk Prof Abdus Somad untuk memeriksa kesiapan dan perlengkapan kampus FIAD. Terutama perpustakaannya. Maka untuk memenuhi perpustaan berstandar perguruan tinggi, kitab-kitab Ust. Umar Hubaisy yang begitu banyak kita pinjam dan kita pajang  di perpustakaan FIAD.
Setelah dinyatakan perlengkapannya memenuhi syarat diadakanlah ujian negeri B,A,.
Yang lulus ada 4 orang yaitu, Pak Isro Kusnoto, Pak Sunaryo, Sdr Hasyim dan saya sendiri  Sdr M.Sun’an Miskan. Saya dinyatakan lulus terbaik dengan skripsi Methodelogi dakwah ISLAMIYAH di era modern.
Kami diwisuda dengan membaca janji dengan berpakaian hitam putih berdasi. Tidak ada dana untuk ruwo-ruwo ( pesta kecil ).
Pada buln Agustus 1974 saya membuat kejutan yaitu ingin mendapatkan beasiswa ke Mesir lewat jalur swasta yaitu PP Muhammadiyah. PP Muhammdiyah ada jatah 5 beasiswa ke Mesir tapi harus biaya sendiri, tidak seperti beasiswa ke Madinah yang semuanya ditanggung pemerintah Saudi Arabiah.
Sementara jatah neasiswa dari Univ Al Azhar Mesir yang jumlahnya 30 basiswa itu diperuntukkan untuk mahasiswa IAIN terbaik se Indonesia.
Alhamdulillah berkat izin istri Hj.Sabbaha Lillah,S,Ag yang waktu itu masih mahasiswi FIAD tetapi sudah digelayuti 3 anak, dukungan dana dari Bpk Miskan bin Dasrib yang menjual sawahnya, mertua H.Mashuri bin Sofwan yang menyewakan tambaknya saya dapat dana untuk membeli tiket pesawat ke Mesir dan persiapan hidup 1 tahun di Cairo.
Berbagai pesan saat pamitan belajar ke Mesir  :
1. Bpk KH Najih Ahyat, pemangku Pesantren Makumambang Dukun Gersik di acara pamitan dengan warga Dukun  di rumah mertua : “ Manfaatkanlah sebaik-baiknya kesempatan belajar ke Mesir karena tidak semua orang dapat peluang ke sana.”

2. Bapak Wisatmo mewaklili Bpk KH Aunurrafiq Mansur ketua PDM Surabaya: “ Kalau sdr Sun’an berangkat ke Mesir, lalu siapa yang menangani kantor kesekretariatan PDM Surabaya ini kami kehilangan kader. Kami berharap segera lulus di Mesir dan kembali ke Surabaya lagi. “


3. Bapak Prof Kasman Singodimejo : “ Sdr Sun’an jadilah kamu di luar negri tokoh mahasiswa yang punya jaringan internasional. Sehingga kalau nanti kembali ke Indonesia dan menjadi orang pergerakan, lalu resikonya dipenjara maka teman-temanmu yang jadi tokoh di negara lain itu memela kamu. Turut bersuara lantang untuk membebaskan kamu dari kungkungan penjara politik.
Alhamdulillah selama 4 tahun di Mesir dan berpisah dengan anak istri selama itu, saya dapat mewujudkan hal – hal berikut :
1. Menyamakan ijazah B,A FIAD Univ Muh Surabaya dengan tingkat IV di Fak. Ushuludin Su’bah Dakwah dan Tsaqofah Univ Al Azhar Mesir. Mereka yang masuk Al Azhar dengan membawa ijazah BA FIAD dapat diterima di tingkat IV. Di akhir tahun ikut ujian dan lulus ia mendapat ijazah dan gelar Lc. (       (الليسانس
2. Sebagai duta  dari PPI ( Persatuan Pelajar Indonesia ) Cairo Mesir untuk menjadi penatar di PP Malaysia di Wisma mereka di Cairo dengan materi “ Kesadaran berorganisasi dan bagaima mewujudkannya “.
3. Sebagai Wakil Ketua Keluarga Besar Bulan Bintang ( BB ) Cairo – Masyuminya Mesir,
4. Sebagai Sekretaris Pertemuan Mahasiswa Islam Internasional di Musim Haji di Mina Saudi Arabia.
Tahun 1978 saya kembali dari Mesir, mengabdi di FIAD Univ Muh Surabaya 1 ( satu ) tahun, waktu itu dekannya Bpk Isra Kusnoto.
1979 pindah ke Jakarta dengan semua keluarga.
Pagi dan Sore menangani Pendidikan di Yayasan At Taufiq Cempaka Putih Jakarta Pusat sampai hari ini.
Siang dan malam menangani PP Muhammadiyah hubungan luar negari membantu Bapak Prof Kasman Singodimejo dan anggauta PPM lainnya. Menerima tamu tamu dari luar negeri, menyalurkan bantuan dari luar negeri ada Masjid, Islamic Center santunan yatim dan penugasan Da’I di Suku terasing.
Membentuk Lembaga Bahasa Arab PP Muhammadiyah dengan membuka kursus bhs Arab methode/manhaj mutakaamil, penterjemahan kitab kitab bhs Arab ke bhs Indonesia dan sebaliknya.
Tidak lupa bantuan kitab-kiab dari luar negeri juga  saya salurkan ke perpustakaan FIAD Univ Muh Surabaya termasuk pengembangan program komputernya dengan berbagai program spt Maktabah Syamilah dll.
Demikian juga beberapa sumbangan Masjid terutama dari negara Kuwait juga kita peruntukkan di kota Surabaya.
Selama di Jakarta dari 1979 sampai 2023 ini saya tetap mengikuti perkembangan FIAD sampai menjadi Fak Ushuluddin Univ Muhammadiyah Surabaya.

Saya tetap bersemangat :
“ Apa yang harus saya berikan kepada FIAD/Fak Ushuluddin  Univ. Muh.Surabaya.”

Mohon maaf kalau ada tokoh FIAD Univ Muhammadiyah Surabaya yang tidak masuk dalam tulisan ini, karena begitu lamanya peristiwa itu untuk diungkap kembali.
Nasrun Minallah Wa Fathun Qoriib.

Jakarta, 19 September 2023 jam 23.30

M.Sun’an Miskan … Abu Yetty Syamsiyyati

Tidak ada komentar